Kamis, 11 November 2010

wah ga jauh beda...



belakangan ini rame banget yang lg bicarain tentang gayus, pasalanya ada orang mirip gayus tambunan tiba - tiba nongol di bali, padahal bukannya dia ada di rutan ya? walaupun potongan rambutnya beda tapi mirip banget eh ternyata itu wig lho?

kalo diperhatikan dengan seksama pria ini memang mirip sekali ama gayus...
wah ini pencorengan nama hukum di indonesia kalau begitu...

Senin, 01 November 2010

Masa kerajaan/ kesultanan Kutai

Kalimantan Timur yang telah berupa kesatuan politik adalah bermula dari Kerajaan Kutai Martadipura atau Kutai Martapura. Kerajaan ini berdiri pada abad ke-4 (sekitar 300 masehi) di Muara Kaman. Ketika itu, Kutai Martadipura telah menjalin hubungan dengan India, sehingga tidak mengherankan jika Kutai Martadipura merupakan pusat penyebaran agama Hindu, selain juga merupakan pusat perdagangan. Pendiri Kerajaan Kutai adalah Kudungga yang merupakan seorang pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja), sedangkan raja pertama yang resmi berkuasa di Kerajaan Kutai adalah Aswawarman karena sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai dan diberi gelar "Wangsakarta", yang artinya pembentuk keluarga.
Aswawarman mempunyai 3 orang putra, salah satunya bernama Mulawarman. Ketika Maharaja Mulawarman berkuasa, Kerajaan Kutai Martadipura mengalam zaman kejayaan dan menjadi kerajaan yang besar. Kebesaran Kerajaan Kutai terbukti dengan adanya kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sebagai berikut :
Setiap tahun raja mengadakan upacara sedekah yang dilakukan di Waprakeswara. Waprakeswara adalah sebidang tanah yang dianggap suci.
Raja mebagi-bagikan hadiah dengan seadil-adilnya kepada para brahmana berupa emas, tanah, dan ternak.
Sebaliknya, rakyat menyampaikan tanda terima kasih kepada raja dengan cara :
Mengadakan kenduri untuk keselamatan raja
Mendirikan tugu prasasti[1] yang berisi tulisan-tulisan tentang kebesaran raja.
Maharaja Mulawarman memperluas wilayah kerajaanya dengan cara menaklukkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Raja-raja yang ditaklukkannya harus menyerahkan upeti kepada raja Mulawarman.
Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam yang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.
Keruntuhan Kerajaan Kutai Martadipura memberikan kesempatan bagi daerah-daerah pedalaman yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Kutai Martadipura dapat melepaskan diri, membentuk kerajaan-kerajaan sendiri selain ada pula yang menggabungkan diri dengan Kerajaan Kutai Kartanegara.

Deskripsi Wallace Tentang Indonesia Masih Relevan

Jakarta (ANTARA) - Deskripsi kondisi geografis, alam dan makhluk hidup tentang Indonesia dari naturalis legenda asal Inggris Alfred Wallace masih relevan dengan kondisi saat ini.

Hal tersebut dinyatakan Ketua Yayasan Wallace Profesor Sangkot Marzuki dalam bedah buku Alfred Russel Wallace berjudul "Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam", di Wisma ANTARA, Jakarta, Jumat.

"Wallace membagi Indonesia menjadi empat kelompok. Pembagian tersebut 140 tahun yang lalu masih tepat sampai dengan sekarang," kata Sangkot.

Prof Sangkot Marzuki yang juga Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) membedah buku Wallace tersebut bersama dengan Anggota AIPI, Prof Edy Sedyawati, yang juga Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Sangkot menjelaskan Wallace membagi Indonesia menjadi empat bagian yaitu kelompok Indo Melayu, Kelompok Timor, Kelompok Celebes dan Kelompok Maluku.

Kelompok Melayu meliputi Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali; sedangkan Kelompok Celebes meliputi Sulawesi.

Kelompok Timor meliputi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, sedangkan Kelompok Maluku terdiri dari Maluku dan Papua.

Wallace juga mengungkapkan teorinya bahwa ada satu garis maya yang memisahkan Indonesia bagian timur dan bagian barat karena berbedanya flora dan fauna karena mengikuti perubahan permukaan bumi di masa lampau.

Naturalis dan ahli biologi tersebut juga menemukan nama-nama flora dan fauna nusantara lengkap dengan kedudukan spesies dan nama ilmiah dalam taksonomi.

Wallace juga memperhatikan karakter fisik dan mental manusia, serta mengamati suku-suku di kepulauan nusantara, khususnya dua suku besar yaitu Melayu dan Papua.

Catatan perjalanan dan pengamatan Wallace dituangkan dalam buku yang diterbitkan pertama kali pada 1869, berjudul "The Malay Archipelago".

Dan 140 tahun kemudian, Komunitas Bambu menerjemahkan dan menerbitkan buku tersebut menjadi berjudul "Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam".

Sedangkan Prof Edy Sedyawati mengatakan pemberian judul "Kepuluan Nusantara" dari buku Wallacea yang berjudul "The Malay Archipelago" adalah solusi yang tepat, karena bakal aneh kalau diberi nama "Kepulauan Melayu".

Pada buku tersebut, lanjut Edy, Wallace menyertakan daftar kosakata dari 59 lokalitas/ suku bangsa.

Komunitas Bambu menerbitkan terjemahan Indonesia dari buku edisi kedua Wallace dengan 482 halaman termasuk indeks.

diambil dari www.antaranews.com